Meningkatnya Kasus DBD di Kalbar



Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.  DBD banyak dijumpai di daerah tropis dan subtropis seperti Indonesia. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya DBD. Diantaranya adalah rendahnya kekebalan tubuh masyarakat, kepadatan jentik nyamuk atau populasi nyamuk penular yang banyak ditemukan di musim penghujan, genangan air di tempat-tempat tertentu seperti ban bekas, kaleng bekas, talang air, botol bekas, gelas bekas, lubang pohon, bambu, pelepah daun, dan sebagainya. 

Di Kalimantan Barat penyebaran DBD ini sangat meningkat pesat penyebaran penyakit DBD di daerah Kalimantan Barat (Kalbar) telah mencapai 2.303 kasus hingga September 2023. Angka ini mengalami lonjakan dibandingkan dengan bulan Agustus 2023 yang lalu di mana terdapat 1.306 kasus. Di sepanjang tahun 2023, dan saat ini telah tercatat sudah ada 27 kasus kematian akibat DBD di Kalbar, dengan 19 di antaranya merupakan anak-anak. 

Di Kabupaten Kubu Raya ada 316 kasus DBD dengan 4 kasus kematian, Kabupaten Sintang 205 kasus dengan 2 kasus kematian, dan Kabupaten Ketapang 162 kasus dengan 2 kasus kematian. Kemudian di Kabupaten Kayong Utara terdapat 104 kasus DBD, tetapi tidak ada kasus kematian. Lalu, Kota Pontianak ada 68 kasus DBD dengan 1 kasus kematian. Kabupaten Mempawah ada 99 kasus DBD dengan 5 kasus kematian, dan Kabupaten Melawi ada 83 kasus dengan 2 kasus kematian. Selain itu, Kabupaten Landak ada 40 kasus DBD dengan 1 kasus kematian dan Kota Singakawang ada 34 kasus, tetapi tidak ada kematian. Adapun di Kabupaten Kapuas Hulu terdapat 61 kasus DBD, tetapi tidak ada kasus kematian, Kabupaten Sekadau ada 64 kasus dengan 1 kasus kematian, serta Kabupaten Sambas ada 13 kasus dan tidak ada kasus kematian. Selain itu, Kabupaten Sanggau ada lima kasus DBD dan tidak ada kasus kematian.


Faktor yang menyebab Kasus DBD meningkat adalah disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya yaitu, kondisi cuaca yang diakibatkan oleh musim hujan yang mulai melanda wilayah Kalbar, lingkungan yang tidak bersih, tempat penampungan air yang tidak ditutup, dan kurangnya perilaku hidup bersih di lingkungan masyarakat. 

Upaya yang dapat kita lakukan sesuai dengan yang di saran oleh dinas kesehatan Kalbar yaitu, dengan melakukan upaya PSN 3 M plus dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PBHS) dengan melakukan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J). Gerakan 3Mplus dapat dilakukan, yakni dengan Menguras tempat yang dijadikan penampungan air, Menutup rapat tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas tak digunakan, menggunakan obat anti nyamuk, menabur bubuk  larvasida (abate), menggunakan kelambu, dan kita juga bisa memelihara ikan pemakan jentik nyamuk. 

Cara pertolongan awal terhadap penderita DBD menurut dinas kesehatan Kalbar yaitu, Jika terdapat anggota keluarga atau orang terdekat yang mengalami gejala DBD, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama. Tirah baring (bedrest), perbanyak minum air minimal 2 liter per hari, kompres hangat, berikan obat pereda demam, jika demam tinggi. Jika dalam 2-3 hari gejala semakin memburuk seperti tampak lemas, muntah-muntah, mimisan, pendarahan gusi, dan sebagainya segeralah dibawa ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk ditangani lebih lanjut.

Kesimpulannya DBD sangat berbahaya jika seseorang terkenal DBD korban tersebut harus segerah ditindak lanjuti jika terlambat akan sangat membahayakan nyawa si korban.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi

Pentingnya Literasi Digital Bagi Siswa dan Siswi

Membangun Rasa Nasionalisme Siswa Siswi di Hari Pahlawan